Managemen RSUD Bulukumba Sebut Kasus Patah Tulang Bayi Bukan Malpraktik, Tapi Resiko Medis

BULUKUMBA, INFOTANEWS.COM – Pihak Manajemen Rumah Sakit Umum Sulthan Dg Radja Bulukumba, Sulawesi Selatan bersedia menanggung biaya rumah sakit bayi yang mengalami patah tulang saat menjalani perawatan secara intens oleh pihak rumah sakit.

Menurut, Plt.Direktur RSUD Bulukumba, dr.Abdur Rajab mengatakan, RSUD Sulthan Dg Radja Bulukumba, sebenarnya mampu menangani bayi fraktur (patah tulang), namun pihak keluarga meminta untuk membawa bayi tersebut ke RS Awal Bross Kota Makassar, demi mendapatkan perawatan khusus.

“Insya Allah, Besok kami berangkatkan bayi bersama orang tuanya ke RS Awal Bross untuk penanganannya. Kami siap menanggung biaya pengobatannya. Semoga ke depan semoga tidak terulang lagi,” kata dr.Abdur Rajab dihadapan awak media.

Pihaknya mengklaim, keterlambatan diagnosis patah tulang baru diketahui 3 hari kemudian setelah ada gejala. terlebih, dari semua kasus patah tulang femur yang pernah terjadi, diagonosis ditegakkan rata- rata pada hari ke-4.

“Awalnya, tidak ada kecurigaan adanya patah tulang paha usai bayi dikeluarkan dari perut ibunya melalui sesar. Berselang berapa hari akhirnya terjadi bengkak dan memar merah. Saat dilakukan foto rontgen, terlihat adanya fraktur atau patah pada tulang paha,” jelas Abdur Rajab.

Kasubag Humas RSUD meluruskan, mengenai tudingan malpraktik yang dilakukan oleh pihak dokter di RSUD Sulthan Dg Radja Bulukumba. Dia mengungkapkan dokter telah melakukan langkah sesuai prosedur.

“Kenapa kami katakan bukan malpraktek, karena dokter sudah sesuai prosedur dalam proses penanganannya, karena adanya indikasi medis jadinya harus di SC (Sectio Caesaria). Dalam proses SC tersebut ada kesulitan melahirkan kepala terlebih dahulu, sudah dicoba dan gagal, makanya di lakukan manuver untuk melahirkan kaki terlebih seperti metode persalinan sungsang,” jelas Bidan yang sudah lama menangani persalinan ini.

Lebih jelas Gumala mengatakan, kasus seperti ini adalah yang pertama kalinya terjadi di Bulukumba selama ia bertugas di rumah sakit.

“Perlu kami luruskan ini bukan malpraktek, ini adalah Risiko relatif tindakan medis artinya risiko itu bersifat individual dan tidak diperkirakan sebelumnya. Hal-hal ini terjadi di luar kemampuan dan prediksi pasti dari dokter,” terangnya.

Lanjutnya, dokter sudah melakukan penanganan tepat dengan benar dan mengacu Standar Operasional Pelayanan (SOP) yang disesuaikan dengan kondisi dan situasi fasilitas pelayanan.

“Jadi prinsip pelayanan kedokteran ditekankan kepada upaya, bukan pada hasilnya. Untuk penanganannya sendiri, telah dikonsultasikan ke dokter Orthopedi dengan menggunakan Pampers berlapis untuk mengurangi pergerakan tulang, penyembuhannya ditaksir sekitar 4 minggu,” jelasnya.

Gumala mengungkapkan, semua profesi dan tindakan ada risikonya yang dihadapi, terlebih tidak ada yang memiliki niat jahat dalam hal penanganan, karena setiap dokter terikat sumpah untuk menjalankan profesi luhur tersebut dan mempertanggungjawabkannya dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Tulang bayi lebih cepat penyembuhannya dibanding tulang orang dewasa. Kami tadi siang mencoba melakukan mediasi dengan keluarga agar dapat diperoleh win-win solution yang dapat memberikan manfaat bagi pasien atau keluarga maupun dokter,” pungkasnya. (*)

Editor : Redaksi

Leave a Reply